Ungkapan Kerinduan Seorang Seniman dan Budayawan Cianjur.




Cianjur,(kawlitv.com)

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Rahasia kehidupan manusia mutlak ada dalam genggaman Allah SWT. 


Wabah Covid 19 melanda dunia hari ini , mengagetkan banyak pihak. Semua pola hidup dan aktivitas manusia diplanet bumi harus terbarukan dengan protokol kesehatan. Di Rumah Saja. Bekerja Dari Rumah.Jauhi Kerumunan.


Pun demikian dengan para seniman dan budayawan, dimana segala denyut nadi kegiatannya syarat dengan interaksi sosial. Kini harus diam. Tak berkerumun.Tenda  harus terlipat oleh protokol kesehatan. Panggung harus dikarantina, entah sampai kapan.


" Saya rindu sekali. Latihan bersama awak pekerja seni. Manggung dan menghibur masyarakat. Dari suatu kota ke kota lain." Ungkap salah seorang seniman dan budayawan Cianjur, Tedi Subarkah, kepada kawalitv.com, hari ini.


Tedi mengungkapkan padepokan seni dan budayanya yang dirintis sejak 2013 silam seperti jadi saksi bisu keheningan. Atraksi silat, debus, tari dan karawitan seolah terkubur dalam balutan pembacaan angka statistik positif korona dberbagai media.


"Sebagai manusia biasa tentu, saya berharap wabah Covid 19 atau korona ini segera pergi. Tapi entahlah, saya dan  awak seni juga para kolega hanya bisa pasrah." Ucapnya penuh lirih.


Riuh rendah suara gamelan , petikan kecapi, suara suling kini tak terdengar lagi di padepokan Laskar Muda Padjadjaran yang berlokasi di kampung Nangleng Kaler, Desa Nagrak, Cianjur ini.


Juga gerak dan lemah gemulainya para penari muda mudi.Pekik rintih para petarung silat . Suara membahana para pembaca puisi.Tepuk tangan dan celoteh para penonton. Seakan hilang ditelan kesunyian sebuah aturan yang dinamakan karantina wilayah, lockdown, PSBB atau apalah namanya.


" Kami menjadikan kesenian dan kebudayaan bukan sebagai mata uang dari sebuah transaksi panggung hiburan. Ada nilai, adat dan adab yang harus kami junjung didalamnya. Meski kami tidak menafikan sebuah ongkos berkesenian, untuk sekedar bertahan hidup" Ucap Tedi, pria lelahiran Cianjur , 40 tahun silam ini.


Saling mengenal sesama mahluk Tuhan, berwelas asih dan saling membantu satu sama lain , imbuh Tedi adalah spirit dari gerak padepokannya . 


Beranjang sono dan bertukar pikiran dengan komunitas seni dan budaya Banten, Betawi, Garut bahkan komunitas seni modern sekalipun kerap dilakukan Tedi dan rekan rekan seperjuangannya.


" Dalam situasi seperti ini, kami banyak bertafakur, meskipun untuk kegiatan bertahan hidup tetap kami lakoni di sawah dan ladang , meskipun beberapa orang anggota hanya sebatas sebagai penggarap." Akunya.


Kerinduan Tedi dan para punggawa di padepokannya saat ini bisa menjadi perwakilan para pegiat seni dan budaya di negeri Indonesia ini.


" Akhirnya kami hanya bisa pasrah saja, tanpa menyalahkan siapapun. Kami sadari sebagai bagian dari masyarakat dan warga negara, aturan akan kami taati. Sebagai mahluk Tuhan kami berserah diri, berdoa sambil berihktiar" Ujarnya.


Dalam catatan dan informasi yang kami himpun kiprah padepokan Laskar Muda Padjadjaran banyak menorehkan kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara. Tidak heran kehadirannya tidak hanya melulu menghembuskan angin kesegaran dan kesejukan dari sebuah atraksi seni dan budaya semata. 


Pemasalahan pelestarian alam dan lingkungan, pemuda penganguran, ekonomi kreatif, kearifan lokal,  banyak terbantu penyelesaiannya oleh padepokan ini.


Ratusan pentas, puluhan karya kerajinan tradisional jadi saksi bisu perjalanan sejarah Laskar Muda Padjadjaran.


Lantas pertanyaan selanjutnya, peran apa yang bisa kita bantu untuk padepokan ini?(AK/Kawalitv.com).
Share:

0 comments:

Post a comment

Kawali TV

Blog Archive

Recent Posts

BERITA