» » Senandung Cinta di Telaga Biru



  Oleh: Wasono Yoga Asmara  

T
erlihat dari kejauhan sebuah mobil Ford berwarna merah meluncur dengan kecepatan tinggi di jalan Suropati yang sepi dan bersih.  Namun tak lama kemudian terdengar dengan keras bunyi rem yang di injak dengan tiba-tiba. Mobil berhenti karena seorang wanita menyeberang tanpa melihat kiri dan kanan. Wanita itu dengan kaget, berteriak dan meloncat ke tepi jalan.  Seketika itu juga dia melihat ke arah mobil. Matanya menatap tajam keseo    rang pria yang berkumis, rambut agak gondrong, duduk di belakang stir.  Sang pria membuka kaca sambil tersenyum menyapa.
“Jalan hati-hati M’bak”.  Tapi wanita itu masih tetap menatap, sepertinya dia masih dibebani rasa kaget dan ketakutan.
“M’bak..., kenapa...? masih kaget...!  Tidak apa-apa koq”.
Si pengemudi turun dan menghampiri,  kemudian menyentuh tangan wanita itu.
”Sepertinya saya mengenal, tapi... siapa ya ...?” gumamnya dalam hati.  Pria itu masuk kembali dan langsung tancap gas melaju ke tujuan semula yaitu Atrium Senen.
Suasana Atrium sama seperti hari-hari biasanya, selalu ramai dan kelihatan sibuk.  Pria itu melangkah dengan pasti menuju kafe.  Dia duduk sendiri sambil menikmati makanan pesanannya.  Cukup lama dia duduk, sepertinya ada seseorang yang ditunggunya.  Tiba-tiba dia berdiri, matanya mencari-cari dan mempertegas pandangannya, dilihatnya ada wanita yang tadi hampir tertabrak ada diantara orang ramai.  Belum berhenti mencari-cari, dia terkejut karena wanita itu melangkah dengan tenang dihadapannya.
“Loh... M’bak... ketemu lagi”.  Pria itu menyapa dengan ramah dan penuh senyuman.
“Eh... iya... koq... ada disini, sedang apa?”. Wanita itu menjawab dengan ramah.
“Mm... anu, eee tidak…, maaf ya tadi, sekarang sudah hilang kagetnya? tapi sepertinya saya kenal dengan m’bak dimana ya?……”. Wanita itupun menjadi berfikir, tapi kemudian tersenyum.
“Iya..., kita memang kenal dan pernah bertemu, bahkan lebih dari itu”.  Pria itu semakin bingung. Mulailah ia berfikir lebih keras.
“Mmm iya-ya, aku ingat sekarang!!!  Kamu Rara kan?”, seraya mengulurkan tangannya dan Rara-pun menyambut dengan penuh senyum.
“Iya...dan kamu pasti Reno kan... Rupanya kita sudah terlalu lama tak bertemu, sampai-sampai kita tak lagi saling mengenal.”
“Em silahkan duduk, Apa kabar, dimana kamu sekarang?”.  Reno membuka percakapan.
“Baik...,”
“Bagaimana dengan Jody...?  Kalian sudah menikah?”.Rara tersipu mendengar pertanyaan itu, tapi dalam hatinya diapun bertanya-tanya apakah Reno masih deng an Sherly.
“Eem sudah bahkan sudah punya momongan, Nah kalau Sherly?  Kalian jadi menikah?”.
“Belum..., saya masih seperti dulu, seorang penghayal yang tetap merangkak”.  Rara menganggukkan kepala, sepertinya dia tahu persis persoalan yang dihadapi Reno.



S

 uasana Atrium semakin ramai. Kafe-pun semakin penuh, karena hari semakin sore.  Beberapa anak muda yang berpasangan keluar masuk sambil bergandengan tangan.
“Ra kamu tidak pesan makanan”.
Rara terkejut oleh suara Reno yang memecah keheningan hatinya.
“Mmm tidak,  saya sudah makan, tapi es jeruk aja deh...”.
S
uasana hati mereka kembali dilanda keheningan, padahal suasana Kafe begitu ramai. Sepertinya hati mereka mengenang kembali ke masa silam…………
“Ra... kita makan yuk... kan udah jam istirahat. Waktunya makan lho...!  Kepala sekolah bilang lewat jam istirahat akan kena sangsi.  Ude kaya anak asrama aje... ye!”.
“Ayo... sama siapa, Hendra mau?”  Jawab Rara sambil mengambil dompet dalam tas sekolahnya.
“Mau..., tuh die udah nungguin”…… 
Itu kebiasaan mereka saat masih dalam satu kelas di SMA.  Dan saat ini pun mereka sedang berdua, tapi mereka tengah dilanda kesunyian dan kegalauan hati yang sangat dalam.  Betapa tidak, mereka saling mengenal bahkan saling menyayangi tapi mereka tak pernah bisa bersatu dalam cinta karena tak mungkin untuk itu semua.  Ada yang mereka kasihi selain mereka saling mengasihi.
“Ren..., sebetulnya kamu sedang apa disini?”.  Rara menegur Reno memecah keheningan hati mereka.
“Eem, enggak, saya sedang menung gu gank kita yang biasa”.
“Lho kalian masih bersama?”
“Iya dong, kan dulu pernah berikrar, kita tetap dalam satu keluarga”
“Terus mereka sekarang dimana?”
“Ada di atas, mereka sedang shoo ting”.
“Oh ya, shooting apa?” Rara sedikit kaget mendengar jawaban Reno karena dalam hatinya ternyata pekerjaan yang digeluti sama.
“Ah hanya video clip”
“Sebentar Ren... memang kamu setelah lulus, terus kuliah dimana, kok berkecimpung di dunia seperti itu”.
“Ah nggak kuliah, saya Cuma kursus dan diklat saja di LPKJ, nah kebetulan saya ambil editing maka dari situlah saya berkembang bisa kamera sekaligus penyutradaraan walau kecil-kecilan dan profesi sehari-hari saya ya editor gitu jer”.
Rara menganggukkan kepala mendengar kan penjelasan Reno sambil tersenyum dan menatap ke wajahnya yang berkumis dan sedikit berjambang.
“Kamu sedikit berubah ya agak gemuk, tapi makin Oke”.  Reno tersenyum GR.
“aduh makacih ya, aku jadi Grogi nih”
“Emm... kamu juga tambah cantik  tapi sepertinya kamu paham tentang hal ini, sebetulnya apa sih kerjaan kamu”. Lanjut Reno.
“Ah tidak begitu istimewa, biasa-biasa saja, yang penting saya bekerja begitu”.  Ujar Rara sambil tersenyum manis.
Sejenak suasana hening, hanya terdengar suara piring yang diangkat oleh pelayan cafe.
“Ra…sungguh saya merindukanmu, hari-hariku selalu penuh dengan desah nafasmu tapi sepertinya, kamu biasa-biasa saja”.
“Reno... ingat, kita tidak lagi seperti dulu dan jangan lagi kamu usik masa silam kita”.
Rara menunduk sambil memainkan sedotan dari gelas es jeruknya.  Reno hanya menghela nafas.  Dalam hati Reno mengapalah wanita ini ternyata menjadi milik orang dan apakah mereka bahagia? Sungguh tak pernah kuduga aku akan bertemu Rara dalam keadaan begini. Tapi entahlah, dan sepertinya buat Rara pertemuan ini tidaklah terlalu menjadi surprice.



S
emakin malam semakin suasana hati mereka terasa hancur dan terus saling bertanya-tanya, dan gank yang katakan Reno pun tak pernah kunjung datang.
“Aduh Ren..., sudah jam sembilan, saya harus pulang”.  Rara bangkit sambil mengaitkan tas dipundaknya.  Reno-pun bangkit dari tempat duduknya sambil melirik ke jam yang melingkar di tangan nya.
“Baiklah, tapi... dimana saya bisa menghubungi kamu?”.
“Emm, tidak... tidak... tidak.  Saya tidak mau kamu menghubungi saya, kan kita dulu sudah berjanji kalau kita tidak akan saling berhubungan lagi”.
Terlihat wajah Reno memerah, Perasaan nya terluka dengan ucapan Rara tadi.  Tapi Reno-pun sadar akan hal itu.  Dengan berat hati ia melepas kepergian Rara tanpa pesan dan kesan sedikitpun.  Reno berjalan mengikuti langkah Rara yang sedikit terburu-buru.
“Hei Ra... dimana kamu bekerja”  Reno bertanya dari emper toko dengan nada sedikit teriak karena Rara berada agak jauh di tempat parkir.
“Di production house” Jawabnya sambil membuka kunci Starlet biru.
“Iya tapi dimana dan apa nama PH itu”.  Reno mendesak penasaran sambil mendekat kearah Rara.
“Sudah saya bilang kamu jangan tahu dimana saya berada, dan sekarang ini saya akan rusak kembali karena pertemuan ini”.
Rara menutup pintu mobil setelah selesai berbicara sementara Reno semakin mendesak dan mengetuk kaca mobil Rara.
“Sorry... maaf kalau aku membuat hatimu terluka, saya tidak bermaksud untuk melukai hatimu dan saya rasa pertemuan inipun tidak direncanakan”.
“Oke lah, aku juga mohon maaf karena membuat kamu jadi tidak berkonsentrasi dengan pekerjaanmu sekarang, tapi percayalah namamu saya bawa sampai mati dan itu sudah saya katakan sejak dulu” Rara menjawab ucapan Reno sambil membuka kaca dan langsung menstarter mobilnya.
“Oke ya... saya pulang, terima kasih es jeruknya…, oh ya tolong salamku untuk mereka”  Rara langsung melaju.
“Rara... hati-hati jangan ngebut!”.  Reno berteriak tapi Rara terus melaju dengan kecepatan tinggi dan hilang, Reno duduk di pilar tempat parkir, pikirannya kabur melayang menembus awan, semen tara Rara-pun sebetulnya sangatlah rindu bertemu dengan Reno tapi dia menutu pinya, takut akan kejadian seperti dulu, Jody mengetahui hubungan Rara dan Reno, padahal semuanya bersahabat walau Jody dari sekolah lain.
 Mungkin karena kejujuran dan kepolosan Rara maka tumbuhlah benih-benih di hati Reno, begitu juga Rara, Reno si penghayal itu sangat romantis dan penuh perhatian maka Rara-pun timbul rasa kasih dan sayang walau mereka tahu tak mungkin akan menyatu dalam satu ikatan, dalam benak mereka berkata, inikah Cinta sejati?.
Starlet biru Rara terus meluncur menuju arah Depok dan sampai di Lenteng Agung terjadi kemacetan.
“Huh...malam-malam macet ada apa sih?!”
Rara berulang-ulang menekan klakson tapi percuma saja.
Ia menghela nafas panjang, pikirannya kabur, ia membayangkan kemasa silam, sungguh sangat mesra hubungan kasih sayang mereka saat itu.



S
uasana pagi yang cerah embun yang masih menggayut di pepohonan mulai berjatuhan matahari-pun belum begitu tinggi, kelompok tiga dalam sebuah perja lanan kemping, yang terdiri dari Reno, Hilman, Hendra, Jaka dan tiga orang wanita yaitu Rara, Irma dan Irianty, sam pai di Lido mereka langsung mendirikan tenda sementara kelompok satu dan dua tertinggal di Bogor karena mereka belum beli perbekalan.  Setelah kelompok tiga beres semua, barulah kelompok satu dan dua sampai merekapun segera mendirikan tenda.
Saat menjelang magrib semua persiapan telah selesai, mereka berkumpul untuk sama-sama sembahyang dan melanjutkan acara hingga larut malam.
“Ra... kamu sudah mau tidur, kalau mau duluan gih biar saya ditemani Hendra sambil main gitar, sementara Hendra-pun memang sedang mendekat sambil memba wa gitar.
“Kita ngamen euy... cari duit buat beli garam, No garam yang tadi nggak taunya tumpah, kita harus beli lagi, bakal masak besok nggak ada lho Ra”
Reno hanya tersenyum mendengar ucapan Hendra yang membicarakan tentang ga ram dengan gaya kocaknya.
“Iyaa ...! ya sudah, yang tumpah puterin saja disetiap tenda kita biar tidak ada ular”
“Oke deh gue cari garem yeeh  sama Hilman”.
“Iye gih pergi jauh-jauh tapi hati-hati” Reno mengusir Hendra sambil memberi kedipan mata.
Suasana hening, hanya terdengar geme ricik air di pinggir danau dan nyanyian jangkrik yang bersenandung, dingin ma lam-pun semakin menusuk tulang.
“Ren... terkadang saya takut lo atas kita berdua begini” ucap Rara lembut
“Maksudmu apa Ra?  Reno bertanya sambil membelai wajah Rara.
“Ya iya maksudku, kita ini kan sudah masing-masing punya pacar”
“Lho kitakan memang nggak paca ran”  Reno memotong pembicaraan Rara.
“Iya, tapi hati kitakan sama-sama kecebur di kolam yang penuh madu asmara”  Reno terdiam matanya menatap ke wajah Rara yang penuh dengan keku atan kasih sayang, kecupan-pun melekat dikening Rara.
“Aku takut sama Jodydan rasanya saya ingin terus terang sama dia, saya tidak mau berbohong terus menerus sama dia dan”
“Oke... oke cukup aku faham maksud kamu, tapi begitu pun mampukah kita saling menjauh, kalau hubungan saya dengan Sherly sih tidak terganggu, kasih sayang saya tidak pernah luntur ke padanya juga sama kau”  Rara jadi melotot mendengar ucapan Reno yang sedikit egois.
“Oh...! Jadi kamu tega ya membi arkan aku hidup dalam kebingungan dan merana, lalu kamu anggap apa saya ini, dasar egois”
“Tenang…please smile darling jangan marah dulu, maksudku bukan begitu, kita sebetulnya bisa memohon pada Tuhan, disetiap sembahyang agar kita bisa memi lih jalan yang terbaik”.
Reno berusaha meredakan kemarahan Rara sambil menjelaskan maksud dan arah ucapan Reno. Rara kembali terse nyum dan bangkit dari tempat duduknya.
“Entahlah yang pasti saya sangat sayang sama kamu”. Ucap Rara sendu. Reno-pun tersenyum mendengar ucapan Rara yang begitu indah di telinga.
Tin... tin… tin, suara klakson mobil begitu ramai membuat Rara tersentak dari lamunan dan ternyata kemacetan yang tadi mulai berkurang, sementara starlet biru belum bergerak juga, ditengah jalan lagi.  Rara segera menginjak gas dan melesat kembali.  Sementara di Atrium, Reno yang dari tadi bengong sejak kepergian Rara, membuat ganknya bertanya tanya.
“Kenapa elo bos…, kaya orang kesu rupan, kamu pasti ketemu hantu ya,              kaya orang linglung lho”.  Hendra menarik tangan Reno yang dari tadi memutar-mutar gelang perak karena dilepas dari tangannya.
“Eh... kamu inget nggak sama si Rara?” Reno berbisik dikuping Hendra.
“Ha... Rara, wah kamu mimpi No”  Hendra memperolok Reno yang sedang termangu-mangu.
“Iya tadi saya ketemu Rara dan ngobrol di kafe sampai jam sembilan” Reno menceritakan kejadiannya dari awal sampai kepergian Rara, tapi Hendra dan semua kru hanya bengong seakan tak percaya sahabat lama yang tak pernah tahu kemana ia pergi, tiba-tiba muncul di lokasi shooting.
“Ah... entahlah saya sendiri tidak mengerti mengapa pertemuan ini begitu singkat”. Hendra hanya menghela nafas.
“Jadi beneran yang elo omongin No”
“Ya iya masa gue bohong sih, tapi dia tidak mau memberitahu dimana dia sekarang dan dia bilang sudah punya momongan”. Hendra menganggukkan kepala sambil memasukkan kamera ke dalam mobil.
“Oke deh kita cabut yuuk... biarlah suatu saat nanti kita ketemu lagi, apalagi dia di Jakarta, Jakrata kecil Reno.”
Hendra berusaha menghibur Reno yang sedang kambuh racun di dadanya. Mereka meluncur kearah Harmoni dan masuk di Studio tempat biasa mereka menyewa peralatan Shooting.
          “Ren, untuk yang minggu depan alatnya sama atau tidak ” tanya seorang petugas dari Production Haus
          “Ngak tahu deh, masalahnya kita dil waktunya belum jelas, nanti kutelepon lagi waktunya” jawab Reno sambil menghem paskan pantatnya di sofa yang panjang.
          “Mau ngedit dimana Ren, dan kapan kira-kira” Tanya Jaka sambil menjejeri.
          “Gak tahu deh, kan masternya belum selesai Mixing, tapi mungkin dua atau tiga hari lagi lah, kali enakan di Tebet aja ya” jawabnya sambil malas. Tidak berapa lama kru Reno selesai membereskan dan membayar tagiah. Mereka pergi dan entah kemana mereka menghabiskan malam yang membuat Reno deg-degan.

     Enam bulan kemudian….

Sungguh sore hari yang begitu menye dihkan, betapa tidak... baru saja keluar dari rumah ban mobilnya terkena paku, setelah beres itu, belum jauh keluar komplek dan masuk jalanan raya, ditang kap Polisi karena salah masuk jalur untung pak Polisinya baik, dengan ucapan selamat dan salam tempel kepada Polisi, langsung urusan beres. Mereka meluncur ke Tol Jagorawi.  Di tengah jalan tol eh... bannya meledak karena terlalu keras, dasar nasib lagi kurang baik memang, tapi begitupun akhirnya mereka sampai juga di Sukabumi dan seperti biasanya mereka istirahat makan di warung instan yang serba ada pinggir jalan.
“Dra... sudah kamu bereskan penginapan kita dan sudah kamu telepon Irianty, biar dia siapkan segalanya”.
“Sudah, oh iya Irianty titip pesan, katanya nanti kamu suruh ke kantornya ada penting katanya”.
“Penting apa ya rasanya saya tidak ada janji tuh, tapi ayolah kita cabut”.

 
S
etelah membayar merekapun melanjut kan perjalanannya menuju Lido.
Seperti biasanya setiap akhir bulan di malam minggu mereka jalan-jalan dan Happy di danau Lido sambil bernostalgia.  Jam sepuluh malam mereka baru sampai, tidak sesuai dengan rencana karena beberapa hambatan mereka lalui.  Untung cottage yang mereka booking tidak diambil orang.  Reno langsung mencari sahabat lamanya yaitu Irianty tapi sayang sudah pulang, maka Reno langsung masuk ke kamar dan bergembira sampai larut malam.

P
agi yang cerah, matahari terbit meme rah begitu indahnya, sungguh pagi hari yang lengkap, karena burung-burung bebas berkicau, tak ada suara kebisingan seperti di Metropolitan.  Reno yang bangun lebih dulu sudah duduk di pinggir Danau yang terlihat dalam dan angker, beberapa ikan kecil asyik berkejaran berebut makanan yang dilemparkan oleh Reno. Sungguh mempunyai kesan tersendiri, Reno duduk di tempat itu karena dulu waktu SMA, disitulah Reno dan Rara berdua dan saling berkasih mesra. Sung guh kenangan yang sulit dilupakan.
“Ra... sesungguhnya saya juga takut dengan Sherly dan saya sangat sayang sama dia juga kamu” Rara memandang wajah Reno yang sedikit sayu.
“Ya makanya kita kalau bisa saling menjauh dan tidak lagi berpegang tangan seperti ini, tapi entahlah coba saja kamu lepaskan pegangan tangan ini and leave me a lone”.
“Ah nggak bisa habis dingin sih, enakan berpegangan, yuk kita ke Hendra saja biar mereka sirik” Reno menarik lengan Rara dan berjalan begitu mesra menuju kawan-kawannya, yang saat itu sedang genjrang-genjreng bersama gitar bututnya.
“Ah sudahlah itu masa lalu, yang pasti saya harus menggapai masa depan yang penuh gemilang” Reno bergumam membuyarkan lamunannya sendiri. Dila yangkannya pandangan mata memutari Danau yang luas dan disekelilingnya menghijau pohon nyiur dengan hiasan kabut yang tipis, terlihat beberapa orang-pun sama seperti dia sedang asyik menikmati keindahan Danau.  Tiba-tiba pandangan Reno tertuju ke halaman se buah cottage, sepertinya ada yang aneh dimata Reno.
“Ah tidak mungkin, rasanya tidak mungkin dia ada disini, Reno menggosok matanya dengan lengan, takut ia salah lihat tapi memang tak salah dia betul-betul melihat Rara yang sedang bermain dengan anaknya, dan disamping mereka duduk seorang pria.
“Hmm... dia pasti Jody, benarkah merakapun ada disini?’.  Reno menghela nafas seakan tak percaya dengan panda ngan matanya.  Ternyata penginapan  Rara bersebelahan dengan penginapan Reno, sungguh tak diduga-duga hal ini akan terjadi.  Ia segera meninggalkan tempat duduknya dan masuk; ternyata di dalam ada Irianty yang sedang ngobrol dengan kawan lamanya.
“Hai Reno apa khabar?” Irianty mengulurkan tangannya dan bersalaman.
“Baik bagaimana Andreas, kamu kasih tau nggak, aku ada disini”.
“Ooo... tentu, nanti siang akan kesini, kamu sudah melihat-lihat keseke liling Danau?”
Reno tersenyum sambil duduk di kursi rotan.
“Sudah dan mungkin itu yang kamu mau bilang”
“Bilang apa?” Irianty menjawab berlagak bingung.
“Iya yang kamu pesan sama Hendra, saya sudah melihat dan sekarang saya jadi deg-degan’’.

M
emang mengasyikkan duduk diping gir Danau sambil menaburkan maka nan untuk ikan kecil, tapi hati Reno tak seindah suasana, justru hancur luluh bagaikan roti yang ditaburkan buat ikan kecil, dadanya seakan meledak dan terbakar, ia menjerit dan menangis, panda ngan matanya nanar bahkan berbinar, tak terasa air mata membasahi pipinya karena memandang kemesraan keluarga Rara.  Dalam hati Reno sungguhlah saya seorang pria yang cengeng bahkan kekanak-kanakkan.
Berulang kali Reno memandang ke arah Rara yang begitu mesra, sepertinya mereka berbahagia.  Baru kali ini dia melihat Jody, dulu saat hubungan mereka diketahui Jody, Reno hanya mendengar suaranya saja, itu-pun hanya lewat telepon dan baru kali inilah ia memandang dengan jelas, walau Jody sendiri tidak mengenal Reno.  Rara terlihat kaget melihat Reno memperhatikan mereka, ia hanya mencuri pandang karena dia pun mungkin takut diketahui Jody.  Reno hanya mampu berdiri dan memandang kebahagiaan mereka. Kesunyian hatinya melanda jiwa yang kegerahan. Dia berusaha memejamkan mata hati yang menjerit menembus awan jingga.
“Ra, semoga kau berbahagia bersa manya, dan doakan aku agar mampu ber jalan seperti apa adanya. Biarlah semua ini akan menjadi kenangan yang tak per nah terlupakam”.

M
alam telah tiba mataha ripun sudah keperaduannya bintang dan rembu lan menggantikan sang mentari. Hendra dan kawan-kawan asyik memetik gitar dengan senandung rindu dan alunan syair-syair dari Ebiet G. Ade.
“Aku berlari dan terus berlari kukejar dan memburu bayang-bayang,kuikuti kemana arah yang pasti,aku berlari dan terus berlari mengikuti kata hati,jiwaku terbang melayang,mataku terpejam anganku di awan menembus langit.Cintamu membakar khayalku, kucoba tuangkan dalam kanvas,dan corak warna-warni,harum aroma ucapanmu menyibak pikiranku,masih adakah gejolak? Ikuti saja irama.  Saat halilintar bersabung, aku terbakar kegetiran, cinta yang kuberi setulus hatiku entah yang kuterima aku tak peduli.  Saat kita jumpa sama-sama nikmat, tinggal bagaimana cara menghayati dan di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan.
Dada yang terluka duka yang tersayat rasa yang terluka… Kabut sengajakah kau mewakiliku, gelap semua yang ada disekeliling mendung benarkah bertanda akan hujan, basahilah seluruh bumi dan basahilah jiwa kami semua agar terasa sejuk di dalam kalbu, aku dan semua yang ada disekelilingku yang tengah dilanda kegalauan.
Rona zaman menggilas kita terseret tertatih-tatih, sungguh hidup terus diburu, berpacu dengan waktu.
Tak ada yang dapat menolong selain yang disana, tak ada yang dapat membantu selain yang disana.  Dialah Tuhan”.

Reno bersenandung dalam hati, ia berdiri memandang jauh ke tengah Danau, yang berubah warna menjadi biru oleh sinar rembulan.  Seperti hati Reno-pun menjadi biru bahkan hampir membeku, terpaan angin malam yang menusuk tulang, Reno semakin pedih mengalami semua kejadian.  Ia melangkah meninggalkan telaga yang membiru gemiricik airnya seakan ikut bersenandung menemani kepedihan hati yang dialami  Reno dan mungkin inilah
jawaban dariNya***

delapan bulan kemudian….
Sore itu hujan semakin deras, kabarnya dalam berita Tv, Jakarta banjir dan ba nyak pohon yang tumbang. Hal ini mem buat Rara mengurungkan untuk pulang tepat waktu.  Rara menunggu siapa tahu hujan akan reda.
“Tang tolong beliin makanan kecil dong ke depan”. pinta Rara kepada Tatang penjaga Kantor.
“Loh Mbak Rara belum pulang toh, kan Mbak pake mobil, ngapain takut hujan” ujar Tatang.
“Iya tapi katanya banyak pohon tumbang”.
Tatang tak banyak tanya lagi, lalu pergi ke mini market dan membeli makanan kecil yang biasanya Rara makan.  Lama Rara menunggu hujan reda, dan sekitar pukul 20.30 hujan reda, Rara pamit pulang kepada penjaga Kantor dan Satpam, kemudian segera meninggalkan kantornya.
Tak disangka ketika Rara hendak masuk pintu tol, Rara terjebak banjir, banyak mobil yang mogok, tidak terkecuali Starlet biru Rara.  Rara keluar mobil dan berusaha mendorong ke pinggir, bersyu kur ada yang membantu Rara mendorong mobil.
Penyesalan dalam hati timbul, kenapa tidak di tinggal saja mobilnya dan pulang naik taksi itu mungkin lebih aman.
Namun Rara berusaha untuk mengering kan mesin mobil, dengan mengelap bebe rapa bagian. Saat sedang mengelap-ngelap tiba-tiba tangan Rara ada yang menyen tuh.
“Kenapa Mbak, mogok ya”  Tanya orang yang menyentuh tangan Rara.
“Iya nih, kena air mungkin”  Jawab Rara sambil berusaha melihat kearah sua ra dan, oh… tak disangka ternyata Reno sang pangeran hatinya yang menyapanya  dengan lembut.
“Reno”   “Iya, dek ini aku Reno”
“Dari mana……, apakah kena mogok juga kah kamu”.
“Aku mau ke Studio di Tebet situ”
“Terus”
“Terusnya, aku lihat mobilmu lagi terparkir dan pasti itu mogok”.
“Terus mobilmu mana”
“Sudah langsung dibawa Hendra dan Jaka”.
“Terus kamu pake apa kesana”
“Terusnya, aku pake starlet biru ini”
“Gila kamu ini kan mogok, dan kalau pun hidup aku mau pulang”
“Iya kamu pulang tapi masa tega tinggalin aku disni sendiri, antar dulu ke studio baru kamu pulang”
“Ya sudah, kalau gitu tolong buatlah mobilku hidup dulu”
“Ok, siapa takut”.
Setelah beberapa alat dikeluarkan dan Reno mulai mengutak-atik, kemudian mesin dicoba dihidupkan oleh Rara, ternya ta langsung hidup.
“Aih… hebat kamu Ren”
“Oh my god, kenapa kamu baru tahu aku hebat”
“Huh… Geer kamu tuh?”
“Ya sudah, ayo antar aku ke Studio di jalan Tebet Dalam”
“Studio apa itu”
“Kwatro, kamu tahu?”
“Kwatro, tahulah”
“Ya sudah, kirimlah aku kesana”
Rara menyetir dan putar balik, kembali masuk ke komplek Tebet sementara Reno duduk di samping Rara   
“Ra”
“Hem”
“Kali ini kamu harus kasih nomor telponmu”
“Ya…ya sudah nanti saja, tapi bagai mana kamu yakin bahwa tadi saya yang sedang kebingungan”  Tanya Rara ceria
“Sebetulnya aku tidak begitu yakin, tapi Hendra saya suruh berhenti dan aku pastikan itu mobil kamu, kan saya catat nomornya”   jawab Reno sambil membe- tulkan posisi duduknya.
“Aku sebetulnya tidak mau bertemu kamu lagi, tapi memang nasib barangkali”
“Ya ini kan lagi-lagi tidak direncanakan, mungkin Tuhan sudah memberikan jalan kekita supaya bertemu!”
Tak lama Rara sudah sampai di jalan Tebet Dalam dan segera masuk dipela taran parkir studio, disitu sudah terparkir Ford merah milik Reno.
Satpam segera membukakan pintu dan bertanya sedikit heran.
“Loh Mbak, ko balik lagi, dan Pak Reno bisa bersama Mbak Rara”
“Hai, kalian sudah saling kenal” potong Rara keheranan.
“Oh, sudah Mbak, kan Pak Reno sering ngedit di kita”
“Oh… begitu, tadi mobil ku mogok dan kemudia Pak Reno lewat ya terus bantuin saya”
“Ra, jadi ini kantormu, kenapa aku ngak pernah jumpa, padahal sering ngedit disini”
“Ya sekarangkan jumpa, ya sudah aku pulang dulu ya sudah malam”   Rara langsung mundur dan melesat pulang ke arah Depok.
Sejak pertemuan itu Rara dan Reno mau tak mau jadi sering telpon walau hanya urusan kerja.
Saat itu jam menunjukan pukul 16.30, artinya 30 menit lagi jam kantor habis. Rara yang sudah punya janji segera menelpon ke rumah mengabarkan akan pulang terlambat karena akan mendam pingi bosnya bertemu dengan klien kliennya di sebuah Hotel. Sementara Jody yang sudah ada di rumah menyatakan ia.
          Begitu bel berbunyi pukul 17.oo Rara langsung cabut menuju kearah kota, tepatnya daerah Harmoni. Suasana Harmoni begitu ramai apa lagi kini semakin lengkap karena ada mall baru yang memanjakan para pengunjungnya. Rara masuk kesebuah Restoran yang bernuansa klasik. Tampak seorang pelayan menganggukan kepala dengan senyuman dan mengantar Rara ketempat duduk yang kosong. Tak berselang berapa lama Reno-pun datang dan langsung mengarah ketempat duduk Rara.
          “Hai apa kabar” Reno meng ulurkan tangannya sambil kemudian duduk.
          “Hai…, baik…kamu nggak lupa lagi sama aku” jawab Rara sambil tersenyum.
          “Oh maaf, tentu tidak”
Keduanya kini saling berbincang dipadu dengan senyuman. Mereka larut dalam suasana nostalgia yang asyik. Keduanya saling memendam rindu namun mereka malu dan mungkin takut. Entah mengapa, tapi mungkin cinta mereka masuk dalam katagori cinta sejati. Memang orang bilang cinta tak harus memiliki, tapi kenapa tidak menikmati, oh my good... Duhai sungguh membahayakan hal seperti itu. Namun demikian tergantung individu masing-masing orang. Itu tergantung ke imanan masing-masing,  namun haruskah
kita bicara tentang iman, karena ini soal cinta.
          “Ra, adakah rasa rindumu buat aku, sungguh aku serasa beku kalau lagi rindu sama kamu”
     “Tak usah lagi kamu ucapkan rindu” tegas Rara kepada Reno yang duduk disampingnya.
     “Kenapa ? rindu dan cinta itu bukan milik kita semata, melainkan terlahir dari karunia Tuhan”
“Benar…..tapi apakah masih pantaskah
saya merindukan kamu?… dan apakah rindumu itu dari lubuk hati yang paling dalam” Reno hanya tersenyum meman dang wajah Rara yang semakin aneh.
Alam terasa hening seakan suasana ikut merasakan kegalauan dua insan yang dila nda asmara.
     Tatapan mata kedua insan ini memberikan kode tersendiri bagi mereka, 
   yang berarti saling memaafkan dan  
   akhirnya saling ter senyum.
“Sudahlah, apa kabar selama ini Ra?”
“Mmm, baik-baik aja, kamu bagaimana,
terus sherly ? saya dengar dia jadi wanita karir yang sukses.”    Reno menghela nafas dan menarik tangan Rara dari meja dan kemudian meremasnya, sementara Rara menyandarkan kepalanya di pundak Reno, disambut dengan pelukan Reno.
“Reno”  
“Hm”  
“kenapasih kita harus bertemu lagi”
“Itulah yang saya heran……, sementara
kamu mengatakan kamu tidak bisa berte mu lagi, terlarang kamu bilang”
“Oh… jadi... kamu menyesal kita berdua
begini” Rara melepaskan pelukan Reno sambil melotot tapi manja.
“Yah…ya enggak sih Cuma.. kamu yang
tanya tapi terus kamu yang melotot…”  
Reno menarik tubuh Rara kembali  kepelu
kannya sambil kecupanya menempel dike ning Rara.
Kedua insan semakin mesra, dan kasih sayang mereka semakin melekat, hati Rara jatuh kembali ke pelabuhan asmara  dan bertempat di hati Reno, atau adalagi kata cinta yang lainnya, entahlah yang pasti nampak indah.
“Jadi…… pekerjan Jody bagaimana ada
kemajuan”
“Justru saking majunya aku dan Jeni
si buah hatiku hampir terlupakan, dia pu lang tengah malam dan langsung tidur, bila ditanya jawabnya, maaf cape dan kalau minggu dia fitnes dari pagi hingga siang kemudian pulang dan tidur” keluh Rara sedih.
Reno sangat mengerti penderitaan Rara, tapi apa daya Reno tak bisa lagi membawa dia lepas dari kepedihan hatinya.
“Terus Lido, kalian tidak pernah kesana
lagi dan”
“Ya… Lido...hanya berjalan beberapa ta
tahun saja, setelah Jeni masuk SD dan tumbuh besar dia tidak lagi seperti dulu, katanya itu mengungkit luka lama, itu tempat saya dan kamu bercinta dia tidak ingin hatinya luka kembali”
Mungkin ada benarnya, memang Lido itulah tempat Reno dan Rara memadu kasih walau masih dalam batas tertentu, karna pada saat itu mereka masih SMA.
“Ra, sudah malam kamu harus pulang”
“Inilah yang saya kesal, saya tidak mau
pulang kalau sudah ketemu kamu”
“ya iya… tapi … ya besok saya telepon”
“Iya” 
     “tapi besok saya ada Shooting di Sunda Kelapa”
Rara melesat dengan Starlet birunya menuju Depok, sementara Reno-pun kem bali ke studio untu melanjutkan pekerja annya mengedit Video Klip bersama kru nya.
H
ari ini hari ke lima belas kebersamaan Rara dan Reno dalam asuhan cinta.
Mereka jadi sering bertemu dan saling  cur
hat tentang kehidupan rumahtangganya.
Bahkan mereka satu ketika bersama da lam satu pekerjaan menyelesaikan Shoot ing Video Klip.
     Malam yang temaram karena Sang Dewi malam terhalang oleh awan yang melintas, bayang-bayang pohon cemara yang menari tertiup angin terlihat bagai kan sesosok hantu raksasa.
Terkadang deraian air Danau Lido sesekali karena ikan-ikan yang loncat. Kebiruan air Danau terlihat didominasi dengan kilatan-kilatan putih pantulan sinar Sang Dewi malam saat cerah, membuat percikan ber lian. Reno mendekati Rara yang sedang duduk sendiri.
“Irianty mana? “ Tanya Reno sambil me
megang tangan Rara.
“Didepan sedang mengurus kepulangan
penyanyi.” Keduanya duduk di bawah te maramnya Sang Dewi malam. Keramaian crew shooting telah sirna, yang tinggal hanya cape dan ngantuk, Reno memeluk pinggang Rara dan Rara-pun bersandar di dada Reno, kemudian Reno mengecup kecil kening Rara dengan penuh kasih sayang, Rara-pun mencium tangan Reno.
“Reno,” 
“Iya sayang”
“tak ingin rasanya aku berpisah dengan
kamu, bila saat-saat seperti ini.”
Rara melanjutkan perkataannya sambil memeluk Reno.
“Tapi bila sudah berpisah,   tak ingin sa
ya bertemu kamu lagi, berdosa rasanya saya ini dan sudah pasti bertumpuk dosa saya pada Jody.
“Sudahlah nikmati aja yang ada, jangan
kamu hiraukan pemikiran itu nanti malah menambah beban kehidupan kita.”
     Seperti memang dua sejoli ini, tak ingin hatinya tercampur oleh hal-hal lain selain cinta. Malam semakin pekat karena ter nyata mendung telah benar-benar mengu asainya, semilir angin menusuk tulang terasa dingin hampir mem beku kehe ningan mulai menyelimuti, Hotel Danau Lido-pun sudah sepi dan tak lama hujan turun rintik-rintik; Reno dan Rara jadi angkat kaki dari tempat itu dan berlari kedekat kolam renang, disitu disinari lampu warna biru dari kolam renang. Hujan semakin membesar dan kedua insan pun semakin mempererat peluknya.
     Kini kita lihat kegiatan Irianti dan crew shooting yang sedang membereskan segala peralatan.
     “Dra, Reno mana “ tanya Hilman sambil merapihkan tasnya.
     “Ada tadi sedang berdua sama Rara“
     “Biarin aja, nanti juga kesini “  ujar Irianty melanjutkan pembicaraan Hendra. Hendra terlihat sudah selesai memasuk kan seluruh barang,  dan mobil-pun sudah diparkir didepan loby, tapi hujan belum juga reda, sementara jam sudah menunjukan pukul 20 : 30 berarti Rara akan terlambat pulang, bagaimana deng- an suaminya nanti.
     “Dra panggil Reno gih bilangin sudah malam nanti Nyonya terlambat pulang “
Hendra pun segera lari kebelakang ketem pat mereka tadi shooting berlangsung, tapi mereka tidak ada, karena memang Rara dan Reno sudah pindah ke kolam renang, Hendra menelusuri koridor hotel
     “Nah itu dia, wah lagi berpelukan, gila bini orang disatronin juga” Hendra berteriak memanggil Reno  berulang-ulang tapi kedua sejoli ini tidak mendengar karena terhalang suara hujan deras, akhirnya Hendra minta tolong sama sekuriti hotel untuk memanggil.
     “Maaf pak, sudah ditunggu sama teman-teman bapak dimobil”
Reno kaget karena sekuriti hotel tiba-tiba sudah ada disamping mereka.
     “Oh iya maaf, tapi hujan”
     “Ini pak sudah saya bawakan payung”
Malam itu rombongan berjalan sangat perlahan, karena hujan semakin deras, jalan yang biasanya lancar kini menjadi macet karena mungkin banyak kendaraan yang mogok, seperti juga rombongan Reno, mobil  kru  terpaksa  tidak bisa  melanjut
kan perjalanan karena mobilnya mogok dan sulit diperbaiki, sementara arus balik semakin padat, hujan semakin deras akhirnya Reno memutuskan untuk kem bali ke Hotel Danau Lido, akhirnya Ford merah-pun putar balik, sementara kru menginap di hotel yang terdekat.
     “Loh kok kalian balik ada apa” Irianty
menyambut kedatangan mereka
     “Mobil Hilman mogok, dan jalan sangat macet jadi ya lebih baik besok saja”
     “Dasar aja loh gila, ya sudah biar Jody saya yang telepon.”
     “Tapi jangan bilang aku disini, tolong bilang saya dirumah nyokap kamu”
     “Beres lah ayo kita telepon sekarang tapi anak elu tolong urus sendiri”
     Malam itu menjadi malam pertama buat dua sejoli tidur dalam pelukan asmara berselimutkan kehangatan api cinta. Irianty hanya menggelengkan kepala melihat mereka bergandengan tangan meninggalkan loby menuju ke kamar, kerinduan mereka akan hal ini, memang lama dipendam, kini saatnya tiba, walau mereka sadar bahwa mereka sudah dalam lindungan syetan yang terkutuk. Api asmara berkobar mengalahkan segalanya. Keduanya hanyut kedalam alunan nada cinta yang menggelora, mereka terbang kedunia hayalan yang mereka impikan selama ini.
     “Aku mandi dulu ya Ren” ujar Rara sambil melepaskan pakaiannya satu persatu.
     “Hei, kamu jangan buka semuanya disini, wah nanti bisa-bisa kamu tidak jadi mandi”
Rara masuk kekamar mandi sambil tersenyum, Reno merebahkan tu buhnya di ranjang Hotel yang empuk, cukup lama Rara mandi, namun kemudian keluar, tubuh putihnya dililit handuk putih,  tampak bulu lengannya lembut menghiasi menambah keindahan tubuhnya. Reno tak berkedip memandang Rara yang duduk di tualet. Rara tersenyum memandang Reno dari kaca rias,  tampak Reno belingsatan sulit mengatur degup jantung.
Reno bergerak mendekati Rara, lalu memeluk dari belakang dan mencium punduk Rara, terlihat bulu kuduknya bangkit perlahan-lahan pertanda geli,  Rara menggeliat dikala Reno mengecup leher Rara.
     “Jangan dimerahin sayang“
Rara berbisik dikuping Reno, Reno hanya memandang wajah Rara yang matanya semakin mengecil. Kini bibir kedua insan itu sudah saling melumat dan tangan Reno sudah merayap keikatan handuk dan melepaskan semuanya. Tangan Rara berusaha mencegah tapi ditepiskan, belaian tangan Reno kini beraksi di paha yang mulus dan indah karena bulu-bulu halusnya, mereka tak mampu menahan gejolak yang menggelora, Reno membawa Rara keranjang dan disitu Reno mulai mengayuh bahtera cinta yang terlarang, keduanya lupa siapa dirinya, kenikmatan yang mereka regup adalah kenikmatan yang mereka nantikan bertahun-tahun.
     Suasana malam yang hening, kini hanya terdengar desahan-desahan lembut dari kedua insan ini, mereka terbang keawan bersama alunan asmara yang menggebu.***
     Sebulan sudah kejadian di Danau Lido mereka lewatkan, sejak itu pula mereka tidak pernah bertemu hanya suara merekalah yang selalu mengobati rindunya melalui telpon dan saat ini mereka berjanji untuk bersama kembali dalam suasana shooting Video Klip. Kali ini Rara mempersiapkan kepergiannya memang untuk menginap dan berpamitan resmi kepada Jody suaminya, sementara Jeni anak kesayangannya dititipkan ke Ibu Rara.
     Keindahan pantai Carita memang tidak terlalu dibandingkan dengan pantai Pangandaran yang sama-sama di Jawa Barat saat itu. Tetapi karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, bisa ditempuh dalam 2 jam, maka Pantai Carita bisa memenuhi keinginan Wisata Bahari dari Jakarta. Termasuk rombo ngan Reno and the gank, kini tengah Shooting di Pantai Carita dan seperti biasa, Irianti, seksi sibuk selalu ada diantara cowok-cowok.  Kesempatan ini pun tidak akan dilewatkan oleh Rara kekasih Reno walau mereka berselingkuh. Sherlylah wanita cantik yang sebenarnya menjadi pendamping Reno,  tapi Rara lebih melekat di dalam kalbu Reno. Entah apa yang membuat Reno tidak mampu melepaskan salah satu dari mereka. Memang dalam perkawinan, Reno memilih Sherly tapi kadang hatinya diberikan kepada Rara.
     Hianat memang, tapi itulah cinta, mungkinkah kesalahan cinta, cintalah yang mungkin menjadi kambing hitam dalam perselingkuhan ini.
Namun semua tahu, bahwa cinta merupa kan anugerahNYa, jadi…ya terserah mana yang bisa menyenangkan hati. Namun begitulah adanya. Kadang cinta membawa petaka, kadang cinta membawa anugerah yang tiada tara. Makanya tetap bagaimana insan itu sendiri, yang menempatkan cinta dalam belahan jiwanya.
     Shooting sudah dimulai Reno menyutradarai, air laut dan kapal feri sebagai latar belakangnya, suasananya semakin marak karena shooting banyak di tonton orang, tapi sebetulnya, suasana seperti ini kurang baik, karena penyanyi kurang konsentrasi. Disisi lain Rara sedang asik dengan motor air, biar perempuan tapi merupakan citi-cita dia untuk menaiki motor air  bersama Reno kekasihnya disetiap kesempatan. Namun Reno tak pernah bisa melakukannya berdua, karena memang Reno harus menyelesaikan pekerjaanya.         
     Kehidupan rumah tangga Rara bersama Jody  memang tampak tak ada masalah, tapi sesungguhnya, Rara memendam rasa tidak nyaman bila berdampingan dengan Jodi suaminya. Rasa takut, rasa risih dan ada juga rasa kasih dalam batinnya selalu berkecamuk, namun apa mau dikata, Rara terlanjur menemukan tambatan hati yang kokoh dalam pelabuhan asmara sang Reno. Sementara Jody pun demikian, ada kecurigaan timbul dalam hati kecilnya, mungkinkah sang istri kembali secara diam-diam kepada Reno? Dirinya tak sanggup untuk mengungkap.
     Seperti saat ini, Jody tengah duduk sendiri dalam kenangan manis saat Rara baru kenal dengan Jody. Ada sebaris kenangan yang selalu terbayang dan itu yang selalu menguatkan dirinya untuk tetap mencintai Rara.
Saat itu Jody adalah anak kos yang tak jauh dari rumah Rara. Rara gadis manis yang merupakan kembang di komplek itu tampak paling mencolok diantara gadis yang lain.
Jody yang memang belum punya gande ngan, berusaha untuk cari perhatian dari sang bunga. Usahannya terganjal oleh cowok lain yang lebih keren dari Jody.
     “Sialan tuh cowok, siapa sih dia”
ujar Jody kesal dihadapan Toro sahabat nya.
     “Tenang men, masih banyak jalan menuju roma” ujar Toro menenangkan hati Jody.
     “Eh Tor, itu kan Rara, oh… gadisku…, manisku, aku seakan gila bila jumpa denganmu” Jody kaget melihat Rara melin tas dihadapannya.
     “Mau kemana Ra” sapa Toro manis. Sementara Jodi terpesona oleh kecantik
an Rara.
     “Aih abang……., mau disini aja  boleh
nggak bang”  jawab Rara sambil terus duduk bersama mereka.
     “Oh boleh-boleh, awas Jo, Rara mau duduk”  jawab Toro sambil sibuk membereskan kursi jelek dan menyabet pinggang Jody.
     “Eh bang nanti kalau si Parno kesini tolong anggap aku pacar abang ya, soalnya aku sebel sama dia”
Rara memohon kepada Toro.  Jody kaget
dan langsung nyambung.
     “Eh Ra biar abang aja yang jadi pacar kamu ya, biar si Parno nanti abang yang beresin” Ucap Jody
     “Oh iya lah bagus kalau begitu”
Nah sejak kejadian itu Jody selalu dekat
kepada Rara, begitu juga Rara selalu tersenyum saat melintas di depan tempat kos Jodi.
Jodi akhirnya mengungkapkan kata hatinya dan Rara tidak menolak walau tidak didasari oleh Cinta sejati. Rasa ingin dilindungi dan rasa kasihan karena selalu memohon untuk diterima cintanya maka Rara menerima Jodi. Usaha keras Jody, gigih mempertahankan cinta sejak dite rima menjadi kekasih Rara, itu yang selalu menguatkan hatinya untuk tetap bertahan mendampingi Rara.
     Kembali ke Rara yang sedang asik dengan motor airnya.
Rara begitu asik berpetualang dengan siraman sinar matahari yang menyengat.  Rara terus memacu motornya memuaskan rasa penasarannya selama ini.  Dirinya lupa pada anak dan suami yang menung gu dirumah, entah ini merupakan sebuah dosa atau anuggrah cinta.
     Yang pasti ini merupakan kebahagiaan hidupnya. Adilkah Rara terhadap kehidu pannya. Rara meraup kebahagiaan, semen tara Jody dan Jeni sedang menanti orang yang dikasihi.  Namun untuk Rara pun demikian, tak pernah timbul kebahagiaan sejati pada dirinya saat berada di dalam rumah. 
     Kebersamaannya hanya demi menjalan kan kewajiban saja. Namun mengapa tak dilakukan pengambilan keputusan sejak dulu, agar tidak ada yang saling menyakiti. Jeni buah hatinya belum tahu apa-apa ia hanya tahu Rara adalah Mama dan Jody adalah Papanya.
Namun demikian, adakah keadilan untuk Rara, dirinya yang sudah menyerahkan seluruh jiwa raga hanya untuk Jody, ternyata kadang tersia-siakan oleh kesibukan karir Jody, kadang Jody tak perduli terhadap kebutuhan Rara.
Kebutuhan itu diantaranya kehangatan kasih Jody yang sempurna. Atau ini hanyalah alasan saja, agar perselingkuh annya seolah-olah dapat dibenarkan……... Tidak…ini bukan basa-basi…, ini nyata dalam jiwa yang paling dalam, Rara sebenarnya tidak pernah melupakan Reno yang memang pilihan hati.
Namun karena Reno hadir dalam hati Rara mana kala sudah ada Jody terlebih dahulu yang bertengger dalam benak Rara. Walau memang posisinya tidak aman. Dengan demikian, Rara masih tetap menyediakan ruang dalam hatinya untuk sang pujaan yaitu Reno. Sebenarnya Rara bukan wanita yang pengeluh, namun ia hanya sedikit curhat, Rara wanita yang tegar dan pemberani, namun hatinya koyak, karena ada dua jagoan yang selalu berebut posisi. Begitu juga dengan keluhan Rara tentang Jody kepada Reno, ini hanyalah sedikit kelelahan hatinya karena selalu ada dua pilihan.
     “Kenapa begitu Ra” Tanya Reno lembut
     “Iya, kadang Jody pergi dua hari tak pulang, tanpa kabar, tahu-tahu pulang langsung tidur.
     “Kamu enggak Tanya dari mana?”
     “Ku tanya dari mana sayang, kok nggak pulang”.
     “Terus”
     “terus dia jawab miting, tapi aku telpon ke kantornya, pasti dia tidak ada, apa miting diluar kota, kata operator telponnya tidak, mungkin pergi keluar atau tidak ngantor”
     “Ya sudahlah, aku tahu kamu butuh perhatian, tapi kamu juga nakal kenapa sekarang malah kamu yang pergi dan berdua denganku”
     “Habis kesel, emang dia doang yang bisa” jawab Rara manja.
     “Asik tadi main motor butnya”
     “Tentu sayang, kamu sih nggak ikut”
     “Ya kalau aku ikut, tidak shoting dong”
Kepergian Rara bersama Reno mungkin sebuah aib, namun mereka tak menyadari.
Rara butuh kasih sayang, sementara Reno memang sangat mencintai Rara.
Sore menjelang, mentari kini  telah beranjak keperaduan, Reno menga jak semua Kru untuk istirahat dan bersi               ap makan malam.
Rara telah bersiap bersama Irianti sahabatnya.
Tampak  rukun memang. namun sebetulnya Rara tampak murung dan kurang bergairah. Padahal tadi siang ia begitu menikmati pengujian adrinalin dengan motor air. Rupanya Rara telah ditelepon oleh Mamanya, mengabarkan bahwa Jeni agak panas, mungkin karena telalu banyak bermain di luar. Mungkin saja Jeni masuk angin. Walaupun Mama Rara meyakinkan, bahwa Jeni hanya sakit biasa.  Sementara Jody belum pulang kerja. Jadi Jeni hanya berdua dengan Neneknya yang sudah tua. Rasa kasihan, dan khawatir timbul dalam dada, tapi ditepisnya, karena masih terlalu asik dengan semua peralatan lautnya. Setelah Rara mandi, lalu dihempaskannya tubuh Rara keatas kasur yang embuk, kemudian dibelai oleh hembusan AC yang sejuk, maka rasa takut, kasihan dan khawatir semakin kuat mendesak dalam dada. Rara merenungi semua kejadian dan mengingat semua kegilaan bersama Reno, sementara Jeni dan Jody menunggu di rumah.
Hal ini yang membuat Rara kurang sema ngat dan terus berpikir keras bagaimana agar semua ini bisa ia lalu dengan baik.
     Setelah mereka makan, semua kru dan Artis bersiap melanjutkan pekerjaanya. Menunggu kesiapan Shooting malam, Rara dan Reno berjalan menyusuri pantai. Dengan cahaya sinar rembulan yang temaram, Rara mengungkapkan semua kegelisahan hatinya. Rara sedikit bingung, karena Jody kemung kinan mengetahui kejadian ini semua. Rara tak mau membuat Jody kalap, Rara merasa penuh dosa terhadap Jeni dan Jody, apa lagi Jeni sedang sakit, sementara Mamanya asik-asikan berpacaran. Rara ingin mengakhiri semua petualangan dengan Reno. Sakit memang, tapi ini memang harus diung kapkan oleh Rara kepada Reno. Rara yakin Reno akan mengerti dan mampu bijaksana.
     “Ren”
     “Hem”
     “Kata Mamaku Jeni sakit,  terus aku bingung dan bingung, aku harus bagaimana cara mengungkapkannya sama kamu”
     “Loh memang kenapa, ada yang salah, kalau Jeni sakit ya sudah, Mama suruh membawa Jeni ke Dokter, besok kan kita sudah pulang.”
     “Aku tahu kalau masalah Jeni, terus aku memang salah Ren, seperti katamu tadi, aku nakal, aku telah melakukan dosa besar, aku telah hianat kepada Jody” ungkap Rara sendu.
     “Jadi…apa yang bisa saya lakukan, kamu mau pulang sekarang?” 
     “Aku tidak tahu, tapi…apa mungkin kita bisa terus begini?” Rara semakin bingung, wajahnya tampak ikut temaram seperti rembulan yang menyinari.
     “Kamu benar Ra…, apa pun yang kita lakukan selama ini memang salah, bukan kita tidak tahu, tapi kalau memang kita mau mengakhiri semua ini, pasti ada jalan”
Langkah mereka terhenti di batang pohon yang melintang di pantai, keduanya duduk berdampingan.
     “Iya tapi….”
     “Tapi jika kita harus memaksakan kehendak, memaksa mengarungi mahligai, tentu mahal tebusannya, mungkinkah itu”  Reno menjelaskan sambil menerangkan dengan penuh rasa bijak.
     “Em…kita pasti harus menghancurkan bangunan yang ada dan harus memba ngun kembali kehidupan baru, itu banyak dan besar memalanya” ujar Reno melanjut kan. Rara tampak meneteskan air mata nya. Reno memandang jauh ketengah laut yang tampak gelap walau masih ada beberapa titik cahaya dari nelayan bagang.
Hembusan angin pantai mulai terasa dingin. Rara membetulkan jakenya yang belum di kancing. Sementara Reno bangkit dari batang pohon yang ia duduki, lalu berjalan mendekati ombak air laut yang memecah.
     “Ra…kalau aku pikir…kita bukan orang yang egois, biarlah kita yang berkorban untuk kebahagiaan orang yang menya yangi kita. Biarlah kita hanya sebatas angan, anggap saja semua kejadian ini hanya mimpi” Reno berjalan perlahan mendekati Rara kembali, lalu jongkok dihadapan Rara.
     “Aku juga mengerti itu Ren, tapi bagaimana aku harus menghadapi kehidu pan selanjutnya” ucap Rara lirih.
     “Pejamkan mata, pandanglah dengan hati, lalu bayangkan kehidupan seperti apa yang ingin kamu capai” jawab Reno dengan sedikit penekanan.
     “Aku akan usahakan, doakan aku ya Ren, terus hubungan kita bagaimana?”
     “Kita tetap berteman, layaknya dulu kita semasa SMA saat hati kita belum terpaut” ujar Reno lugas.
     “Heeh, iya aku kini agak lega” 
Reno menghela nafas panjang, hatinya koyak, rasa malu dan ragu menyentak jiwanya. Namun Reno tak sanggup berbu at apa-apa. Ia terlalu Cinta kepada sang Dewi. Namun Reno rela melepas Rara seperti dulu saat Rara memutuskan untuk menikah dengan Jody, dengan penuh kebesaran jiwa. Walau sebelumnya pernah ada ancaman dan tantangan dari Jody. yang mengatakan Jody siap berhadapan dan duel dengan Reno, tapi Reno tak meladeni keinginan Jody, karena demi kebahagiaan Rara.
     “Kamu yang namanya Reno” tanya Jody dibalik telepon.
     “Iya…siapa kamu, dan ada perlu apa” jawab Reno santai.
     “Aku Jody tahu, aku calon suami Rara, tolong ya jangan kamu gangu Rara, atau kamu berhadapan denganku” ancam Jody lewat telepon.
     “oh maaf ya, kalau aku sudah membuat kamu marah, tapi sebetulnya aku nggak terlalu butuh dengan Rara, mungkin saja dia yang mau sama saya” ujar Reno sedikit sombong. Dalam benak Reno, kesombongan itu supaya Jody tidak terlalu keras mengancam pada dirinya, dan Rara tetap bisa bersamanya.
     “Eh lu kalau berani ganggu, lu berhadapan sama gue, kita duel aja, lu tinggal pilih dimana lokasinya, gue siap menghadapi elu” Bentak Jody belum puas mengancam Reno.
     “Oh ngak usah seperti itulah…….., ambil saja kalau lu memang sangat memerlukan, emang lu yakin ngak akan laku lagi, kalau gue sih rasanya yakin bisa laku lagi, apa lagi gue kan, ya…… boleh dibilang selb lah dalam sekolah gue, maaf ya, tapi kalau lu masih ngancem gue dan berani datang kemari, ya gue jabanin juga, kenapa tidak……” jawab Reno balik mengancam dan agak menyombongkan diri. Itu diantaranya pertengkaran mereka, saat Rara benar-benar mengakui hubu ngannya dengan Reno. Mungkin karena Jody terus menekan, maka akhirnya Rara tidak tahan juga, terserah apa yang akan terjadi-terjadilah.
     Reno membuang kenangan menyebal kan itu, dan hatinya kembali ke pekerjaan yang ia lupakan, sementara ini memang sedang berjalan. Namun demi orang yang dicintainya, ia rela membiarkan pekerjaan diselesaikan oleh asistenya. Rara berbinar, dirinya ingat akan dosa yang telah diperbuat bersama Reno. Rara merasa egois, demi kepentingan cintanya, dia telah melupakan ikrar kasih yang telah diucapkan dihadapan penghulu bersama Jody suaminya. Reno pun sebetulnya menyadari hal tersebut. Apa lagi Reno, Sherly tak pernah menuntut apapun dari Reno, yang Sherly butuhkan hanyalah cinta kasih seutuhnya dari Sang Reno. Tapi apa yang terjadi, Reno telah berselingkuh dengan wanita idaman lain. Sungguh menyakitkan hati. Kejamkah itu…entahlah…, yang jelas dulu semasa mereka di SMA, Reno juga tertarik oleh pandangan pertama. Rara gadis yang manis dan pintar selalu membuat sesnsasi dikelasnya. Sementara Reno dikenal seo rang penulis cerita yang top di sekolahnya. Hampir semua majalah dinding pasti isinya cerpen Reno. Makanya Reno terkenal si penghayal dan begitu romantis, karena tulisan-tulisannya banyak tentang percintaan. Sebetulnya banyak cewek lain yang berusaha ngedapetin Reno,  tapi Rara
yang mampu memikat hatinya. Namun jangan salah, Reno adalah kekasih Sherly, putri cantik dari sekolah lain, orang tua mereka telah berkawan lama, sehingga Reno telah lama ada hubungan khusus dengan Sherly. Tapi mungkin jiwa pengha yalnya ini yang membuat hati Reno terpaut juga kepada Rara. 
     “Ra, mau nggak kamu saya jadikan pemeran utama dalam cerpen saya yang akan datang” rayu Reno saat itu.
     “Mau, emang ceritanya bagaimana?”
     “Ya belum tahu sih, yang pasti tentang dua sejoli yang saling jatuh cinta, mereka akhirnya kecebur dalam kolam yang penuh madu asmara”
     “Wah asik tuh, boleh, aku mau, kapan kita mulai pembuatan ceritnya” desak Rara.
     “Ya bisa kapan saja, sekarang juga bisa”  jawab Reno sambil memegang tangan Rara.
     “Gimana caranya”
     “Pejamkan mata kamu, terus bayang kan kamu jadi pacar saya, dan kita berja lan bersama, kita makan, minum dan nonton berdua”
Reno berusaha melancarkan rayuan mautnya, sekaligus memang tengah audisi untuk cerita pendeknya.
Setiap hari Reno rajin merayu Rara dengan penuh keyakinan, Reno memang romantis, tampang lumayan tampan. Makanya Rara bisa terpaut tanpa ada paksaan. Serelah mereka jadian, barulah mereka mengungkapkan, bahwa masing-masing sudah punya gandengan. Tapi mereka tak menyurutkan niatnya untuk tetap berduaan. Keduanya mesra, semua orang tahu, Rara adalah kekasih Reno, namun semua orang juga tahu bahwa Rara kekasih Jody dan Reno kekasih Sherly. Hingga suatu hari, Rara tengah pergi berdua Reno, tiba-tiba Jody datang menjemput Rara. Namun dipintu gerebang sekolah bertemu satpam penjaga sekolah.
     “Hai dik mau kemana, kamu kan bukan siswa sini” Tanya penjaga sekolah kepada Jody.
     “Iya pak, saya memang bukan dari sini, saya mau ketemu Rara” ujar Jody sedikit langak-longok.
     “Em…maaf dik, semua siswa sudah pulang, termasuk Rara”
     “Wah, kalau Rara pulang jam berapa dan sama siapa dia pulang, maaf pak nanya terus” Jody sedikit gelisah.
     “Tadi lah jam setengah duaan, sama siapa lagi kalau bukan sama Reno” jawabnya tegas
     “Reno, siapa Reno?, teman sekelasnya ya” Tanya Jody sedikit curiga
     “Wah…adik ini tidak tahu perkembang an, kamu sodara Rara atau apanya sih? Masa kamu nggak tahu kalau Reno Pacar si Rara” jawab pak penjaga dengan polos.
     “Oh begitu ya, maaf pak, kalau begitu saya permisi, terimakasih” Jody langsung menstater motornya dan pulang.
     Dalam hati Jody berkecamuk, pantas Rara sedikit aneh belakangan ini.
     “Oh… mungkinkah tulisan-tulisan yang kemarin saya temukan adalah ungkapan cinta kasih mereka?” Jody bergumam dalam hati.
Wahai bidadariku, pujaanku, sungguh diriku menemukan bunga yang ku impikan selama ini.
Rasa yang terpatri di jiwaku hanyalah tertulis namamu duhai bungaku.
Maka dari itu, ku harapkan kau bisa tumbuh hanyalah dalam kalbuku.
Aku memang sudah ada yang punya namun sesungguhnya, kaulah pilihanku.
Adakah rasa itu dibenakmu…, seperti yang kurasakan saat ini?
Tak sanggup diri ini... jika berpisah dengan
mu, lunglai tubuhku, jika tak kau sirami dengan desah kasihmu.”
Itulah kata-kata dalam secarik kertas yang
Jody temukan dalam selipan buku Rara.
Dan di baliknya ada pula tulisan Rara, mungkin itu balasan dari puisi Reno.
     “Duhai kumbangku, demiki pula bunga
ini, takkan pernah merekah jika tak ada dirimu yang selalu mendampingi dalam segala hal. Pertumbuhan kasihku selalama ini, hanya lah keterpaksaan saja untuknya.
namun cinta kasih yang tulus hanyalah kudapat dari dirimu wahai pujanggaku.”
     Dengan tulisan-tulisan inilah Jody memberanikan diri untuk mencoba men jemput Rara ke sekolahnya.
Tujuan utamanya adalah untuk menye lidiki. Tapi rupanya cinta Rara dan Reno sangat kental. Sehingga penjaga seko lahpun tahu, bahwa Rara dan Reno me mang telah ikrar saling memiliki. Sungguh pedih hati Jody, namun itulah kenyata anya. Rara sebetulnya tidaklah sungguh-sungguh mencintai Jody.
Jody harus menelan pahitnya cinta ber tepuk sebelah tangan. Tetapi karena Jody sungguh-sungguh mencintai Rara, maka kejadian ini tidak dipertanyakan kebenar annya kepada Rara.
Jody terlalu sayang, sehingga Jody siap menerima kekecewaan ini, dirinya berha rap Rara akan berubah untuk bisa me nerima cinta Jody dengan setulus hati. Walau ada sedikit kebimbangan dalam diri Jody, mengapa harus memaksakan cinta yang tak bertaut. Pernah juga terlintas untuk menantang duel dengan lelaki yang namanya Reno. Seperti apa sih lelaki yang menjadi pujaan Rara sesungguhnya, namun sementara ini ditepiskannya dari dalam hati Jody.
     “Ra nanti siang saya jemput kamu ya kesekolah, terus makan siang” ucap Jody sambil menancapkan kunci motornya.
     “Nggak usah lah, nanti saya ada acara OSIS, nanti kamu malah nunggu lama, kasihan kan” jawab Rara beralasan.
     Siang itu memang Jody tidak menjem put Rara, namun dirinya telah berada dilingkungan sekolah Rara, sejak sebelum lonceng pulang berbunyi. Tujuannya jelas, Jody mengawasi Rara. Namun siang itu memang benar seperti ucapan Rara, bahwa disekolah ada kegiatan OSIS. Jody sulit mencari yang mana orang yang bernama Reno. Menurut informasi yang didapat, Reno berambut agak gondrong, tapi ternyata, tidak hanya satu orang yang agak gondrong. Lama Jody mengawasi Rara dari warung pinggir jalan. Namun Rara begitu sibuk dengan semua orang. Jody akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan sekolah Rara.
     Sore itu Rara pulang diantar oleh Vivi yang terkenal cewek paling tajir. Bukan hanya punya mobil, tapi badanya juga tajir
Vivi memang gemuk, tapi baik hati, dia selalu bersama Rara kalau sedang ada kegiatan sekolah. Jody yang sedang nongkrong di pinggir jalan bersama Toro, menghampiri mobil Vivi yang mengantar Rara.
     “Mampir dulu Vi” ujar Jody basa-basi
     “Makasih…dah sore nih” jawab Vivi sambil membelokan arah mobilnya.
Jody mengikuti Rara dari belakang. Rara terus berjalan dan masuk ke gang. Jody sedikit berlari dan menjejeri langkah Rara.
     “Ra mau makan malam dulu, saya tahu tempat yang bagus dan murah tapi bersih”
     “Aduh udah sore, lagian ngapain sih pake makan malam segala, kan ini sudah di rumah”     Rara menjawab agak ketus.
Jody kembali nongkrong bersama Toro, karena rencana untuk mengajak makar Rara gagal, rupanya saat nongkrong itulah Jody merencanakan sesuatu kepada Reno. Jody mencari alamat Reno lewat satpam sekolah yang bodoh itu, tapi mungkin untuk mendatangi  Reno, Jody tidak sebe rani itu, maka Jody hanya mengancam lewat telepon saja. Namun ancaman Jody membuat Rara menjadi semakin marah walau Rara tetap tidak mampu melepas cinta Jody. Entah ada apa diantara mereka, sehingga ikatan mereka benar-benar kuat. Selanjutnya Rara dan Reno tak lagi saling berhubungan, setidaknya sampai mereka mendekati lulus SMA. Namun selama itu tampak hari-hari Rara diselimuti mendung. Tapi tiga bulan lagi akan ujian, Rara dan Reno tak sanggup tuk berpisah, maka mereka menyatakan bersatu kembali.
     “Aku tak sanggup untuk melupakan kamu, tega kah kamu sam aku Ren, aku kan lemah, aku perlu bimbinganmu” ungkap Rara kepada Reno dalam sebuah perjalanan menuju pertemuan OSIS di sekolah lain.
     “Kamu kira aku ngak seperti itu, aku juga tidak bisa bernafas jika tak kulihat senyumu, bisakah kita jalankan kembali hubungan cinta kita, tapi tentunya harus tahu batas keawajaran” jawab Reno dengan penuh kelembutan.
     “Jadi kamu mau tetap mengasihi, mencintai walau kamu sudah diancam Jody”
     “Yap, aku siap berhadapan dengan Jody bila perlu, tapi sebaiknya jangan lakukan itu, lebih baik hubungan kita jang sampai ketahuan Jody, toh kita tidak terlalu berlebihan”
Hubungan gelappun berlanjut, hingga mereka benar-benar lulus dan berpisah dengan sendirinya. Namun cinta keduanya sangat kuat, bukan hal lain yang mendasari kuatnya hubungan mereka melainkan benar-benar cinta.
     “Ren, kita berpisah, kemana kamu akan melanjutkan kuliah, kalau aku nggak tahu lah, mungkin Jody akan memaksaku untuk mengakhiri masa seperti ini” ujar Rara saat mereka berpisah
     “Entahlah, aku belum merencanakan”
     “Ya aku percaya kamu bisa untuk melnjutkan perjuangan ini, tapi…” 
     “Tapi bisakah cintakah tetap berlanjut”
     “Bagaimana mau berlanjut, kan sudah ku katakan, mungkin Jody segera melamarku dan mungkin kami akan segera menikah, maafkan aku Ren”
     “Aku mengerti Ra, ya kuucapkan semoga kamu bahagia”
     “Aku berharap, kita tak lagi berjumpa, dan tak ingin rasanya aku berjumpa kamu lagi, karena dah pasti akan membuat semakin terluka, bukan hanya aku tapi juga kamu dan Jody, jadi usahakan kita tak lagi bertemu”  Rara mengakhiri cinta mereka, dan memilih melanjutkan hubungan dengan Jody.
Sementara Reno melanjutkan dengan memperdalam bakat seninya dengan kursus di LPKJ Cikini Jakarta. Sehingga Reno menjadi seorang Editor, Kameramen juga Sutradara, disamping itu menulis masih tetap berjalan bahkan tulisannya banyak dirilis di koran dan majalah.
     Nah kembali ke arena Shooting, Rara duduk bersama Kru yang lain didampingi Irianty, Reno juga sudah menghadapi monitor dan sibuk dengan artisnya.
Irianti menangkap kabut yang ada dalam aura Rara, tampak kesenduan dalam diri Rara. Irianty mengajak Rara ke kamar dan mulai menyentuh hatinya. Secara perla han dan lembut, Irianty mulai menelusuri lekuk-lekuk hati sahabatnya. Karena selain Reno, hanya Irianty lah yang benar-benar mengerti isi hati Rara. Maka dengan adanya kejadian seperti ini, Irianty lah yang pasti akan membantu.
     “Kenapa Ra, kamu ada masalah dengan Reno, bertengkarkah kalian” tanya Irianty lembut.
     “Enggak Yan, Cuma Jeni agak sakit, tapi sudah diurus sama Mamaku” jawab Rara kepada Irianti yang biasa dipanggil Yanty
     “tapi” Rara melanjutkan perkataannya.
     “mungkin aku harus cerita ke kamu, karena cuma kamu teman satu-satunya yang masih tetap setia sama Reno” Rara menghela nafas panjang, tubuhnya dire bahkan diatas ranjang putih yang empuk.
     “Jadi kenapa Ra?” desak Irianty.
     “Boleh nggak aku tidur disini, aku tidak mau tidur sama Reno…, boleh ya Yan, please” pinta Rara sambil memegang lengan Irianty.
     “Oh tentu, aku kan juga tidur sendiri, tapi kamu janji untuk cerita ya”
     “Tentu Iriantyku sayang” Rara bangkit lagi dan mengajak Irianty untuk kembali ke lokasi Shooting.
     Malam itu Rara berkeluh-kesah dan menceritakan semua rencana yang akan di jalankan kepada Irianty. Irianty dengan penuh seksama dan kesabaran mendengar
kan semua pembicaraan Rara. Irianty sangat mengerti apa yang terjadi diantara mereka, namun apa yang bisa dilakukan oleh Irianty sebagai sahabat keduanya, hanyalah saran.
     “Kupikir ada baiknya kamu akan melakukan hal ini Ra, ya pasti berat buat semuanya, tapi demi anakmu dan mah ligai pernikahanmu yang sudah berjalan” ujar Irianty memberi saran.
     “Mungkin aku sudah penuh dosa, dan mungkinkah Tuhan akan memaafkan aku” Keluh Rara kepada Irianty.
     “Ah Tuhan itu maha pengampun, yang kamu perlukan adalah keikhlasan, kamu ikhlas tidak meninggalkan Reno” kata Irianty memberikan pendapatnya. 
     Pagi yang cerah, matahari muncul perla
Han, semburatnya memerah menyinari air laut yang bergerak perlahan hingga sampai ke pantai. Rara yang berjalan sendiri menyusuri pinggiran pantai sambil membiarkan kakinya tersapu air.
Dari sebelah barat tampak anak gunung Krakatau megah dan gagah, bagaikan menantang lautan nan luas. Rara terhenti langkahnya karena memandang indahnya sinar matahari yang berkilauan bagaikan taburan berlian. Hatinya sendu bahkan membiru, batinnya menderu, merindu namun tak sanggup utuk terucap dari bibrnya.   Air matanya  jatuh membasahi pipinya yang tampak merekah karena udara pagi. Namun dirinya tak sanggup untuk lebih jauh lagi memikirkan cinta sejatinya. Nama Reno akan dihapuskan dari dalam lubuk hatinya. Cinta yang dulu bahkan kemarin begitu mekar dan ranum tumbuh didalam hati, kini Rara berusaha untuk membunuh dan menguburnya dalam-dalam. Rara melanjutkan langkah dipagi itu, hatinya masih tetap biru, mulut nya masih bisu, belum ada yang sanggup mencairkan kebekuan kalbunya.
     Sementara di hotel tempat mereka mere
Ka menginap, kru shooting tengah sibuk mepersiapkan peralatan guna shooting di pagi ini. Hari ini masih ada beberapa shot yang harus di shooting, mungkin diperkira
Kan akan memakan waktu sekitar empat jam. Jadi mungkin tidak pulang malam, dan semuanya akan diusahakan beres siang ini. Mereka mulai dengan sarapan pagi, Irianty sibuk mondar-mandir dengan membawa makanan, Reno keluar kamar dengan membawa naskah didampingi oleh Hendra.
     “Yan Rara mana?”    tanya Reno kepada Irianty.
     “Mungkin lagi jalan-jalan…, tuh dia sebelah sana” jawab Irianty sambil menunjuk kearah Barat dimana Rara sedang berjalan mendekati areal hotel.
Reno menjemput Rara, Hendra sarapan pagi bersama kru dar para artis, Reno menunggu di luar pagar hotel, Rara tersenyum saat pandangannya beradu dengan pandangan Reno.
     “Darimana neng?” tanya Reno
     “Eh…anu…habis jalan-jalan, enak loh jalan pagi, kena air pantai nyaman deh kaki saya” jawab Rara lembut.
     “Ada kutu airnya nggak kakinya, kalau ada bisa mati tuh, kan air laut mengan dung obat jara” ujar Reno meledek.
     “Waduh kebetulan ini semalam gatal sekali kepengin menendang orang, jadi aku tendangin deh ke air laut biar ilang jaram gatalnya” jawab Rara balas meledek.
     “sarapan yuk” ajak Reno sambil meng gandeng tangan Rara.
     ”ayo, eh tapi usahakan jangan lagi seperti ini, kita harus belajar pisah” pinta Rara sambil melepaskan gandengan tangan Reno.
     “Oh iya…, maaf ya, aku lupa, sulit rasanya aku melupakan kasih kita, tapi aku tahu, aku harus berusaha, terus Jeni bagaimana kamu sudah telepon lagi belumpagi ini”    Reno berusaha berjalan didepan, Rara menikuti.
     “Sudah, katanya panasnya sudah turun, semalam Jodi sudah bawa ke dokter” jawab Rara sambil mengikuti langkah Reno.
Kini keduanya telah duduk bersama kru, mereka makan bersama, namun tetap ada keganjilan yang mereka rasakan, karena Rara dan Reno tak seakrab biasanya, keganjilan itu lalu mereka tepis dan mereka sudah saling tahu. Walau kru tidak tahu persis apa yang terjadi namun mereka yakin ini hanya sementara.
     Usai makan semua pekerjaan dimulai, kru mulai sibuk, begitu pun Reno, namun lain dengan Rara, dirinya pergi ke kota Labuan Banten, Rara beli oleh-oleh untuk Jeni tercinta, Rara pergi ditemani supir yang biasa antar jemput artis, sehingga tidak mengganggu aktipitas shooting.
     Rara benar-benar berusahan melupak an Reno, terlihat dari Rara membelikan oleh-oleh untuk Jody suaminya. Mungkin perjalanan hidup Rara yang baru akan segera dimulai babak ke tiga, atau entah babak yang keberapa. Karena kehidupan cinta dengan Reno sungguh menyita perhatian. Mungkin ini akhir dari perse lingkuhan panjang dari dua insan yang dilanda cinta sejati. Mungkinkah itu yang namanya mabuk cinta? Mungkinkah cinta memabukan? Tidak cinta adalah benang suci kiriman ilahi, hanya orang yang sucilah yang mampu merasakan khasiat cinta sejati. Namun cinta suci sebenarnya sulit untuk dicari, namun itu tergantung insan itu sendir. Bagaimana cara menem patkan cinta dalam diri dia.
     Reno sudah menyelesaikan pekerjaan nya, kini semua kru sudah berada di mobil, Rara tak lagi ikut dalam mobil Ford merah milik Reno. Rara berada di mobil artis, bergitupun Irianty terpaksa menemani sahabatnya.
     “Ren…makasih ya, aku pulang duluan, dan tolong jangan telepon aku lagi, walaupun kamu akan menyewa studio editing, usahakan kamu tidak lagi harus masuk ke ruanganku” Rara menyalami tangan Reno terakhir kalinya
     “Ra…mungkinkah kamu tega begitu saja meninggalkan aku, sanggupkah kamu bunuh cintaku padamu?” tanya Reno sambil menciup pipi Rara.
     “Maaf Ra, ini terakhir kali aku menci ummu, kuharap kamu tidak marah” ujar Reno lembut. Rara tersipu, wajahnya tampak memerah, hatinya melayang, jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha untuk tenang. Rara meninggal kan Reno, mobil artis melesat terlebih dulu karena harus mengantar kerumah masing-masing. Reno melepaskan nafas panjang, kepalanya disandarkan di jok mobilnya. Hatinya gelisah, rasa yang tersayat, jiwa yang terpanggang, kini terluka parah. Reno terpejam, pikirannya berusaha untuk melupakan Rara, ia berusaha kembali ke Sherly yang selalu setia menanti kedatangannya. Salahkah Reno? Jelas salah, ia telah menghianati cinta Sherly yang utuh untuk Reno. Namun itulah kehidupan cinta di dunia nyata. Reno tak sanggup tuk berucap sepatah katapun, tubuhnya lunglai, jiwanya gemetar, dadanya menderu bertalu-talu, bagaikan ratusan beduk saat malam takbir idul fitri.
     “Ndra…Hendra…Hendra…” Reno mema nggil Hendra yang sedang bicara dengan Hilman.
     “Iya bos…, kenapa luh, lemes begitu, lu bisa bawa mobil nggak lu, udah biar gua aja yang bawa” ujar Hendra sambil membuka pintu sopir.
     “Ya memang itu tujuan gue panggil elu”
     “oke lah…yo kita jalan”
     Rara tiba di rumah sekitar pukul 17.30 menit. Jeni menyambut mamahnya dengan gembira, disitu sudah menanti ibunda Rara dan Jody. Jody membereskan barang bawaan Rara. Jeni segera membuka oleh-oleh yang dibawa mamah nya. Demikian pula dengan Jody, dia mengucapkan terimakasih karena sudah repot-repot membawakan oleh-oleh untuk nya. Rara segera mandi dan menyiapkan makan malam bersama, seolah tak pernah ada masalah dalam diri Rara. Namun sesungguhnya berkecamuk dalam dada Rara. Sekitar pukul 20. 30, Jeni tidur, Rarapun menemani Jeni, hatinya mela yang, memikirkan kembali baik-buruknya membunuh cinta dalam dadanya. Namun Rara sudah tak sanggup lagi untuk ber fikir, karena kantuk yang sangat telah menyergap pada dirinya. Akhirnya malam itu Rara tidur bersama Jeni putrid kesa yangannya.
     Hari-hari Rara kini dijalani tanpa ada rasa beban Cinta kepada Reno, Jeni menik mati kasih-sayang ibunya dengan penuh, begitu juga dengan Jody suaminya. Setiap hari Jody tak lagi pulang terlambat, karena Rara pasti sudah pulang lebih dulu dan pasti menyiapkan makan malam. 
     Kehidupan Rara di kantor, sangat mulus, Rara yang seorang sekretaris direktur, sela lu siap menerima pekerjaan dari bosnya. Mungkin kini Rara benar-benar telah kembali seperti dulu saat baru masuk kerja. Setelah tiga tahun berlalu, tak pernah ada lagi sebuah nama timbul yang begitu indah terukir dalam hatinya. Nama Reno telah dihapus oleh air suci yang ia terima dari dalam kalbunya. Permohonan ampun atas dosa-dosanya selama ini, mungkin diterima oleh Allah. Rara yakin benar dengan kehidupan tanpa cinta Reno.
     “Ra…besok kamu ikut saya, kita akan ketemu sama bos kopi” ujar sang direktur kepada Rara.
     “Siap pak, jam berapa, lalu apa yang harus saya siapkan” Tanya Rara.
     “Oh iya, kamu siapkan contoh-contoh iklan yang pernah kita buat”
     “Baik pak”
     Pagi itu Rara dandan begitu rapi, mungkin karena akan menemani bos, ketemu kliennya, jadi masak sekretarisnya culun.
Rara pergi menuju daerah Glodog, perjalan
an dari Tebet ke Kota sungguh bukan jalanan yang sebentar, walaupun perjalan anya dekat, tapi karena macet, maka bisa  jadi lama. Rara dan sang bos memasuki gedung dimana produsen kopi berada. Mereka menunggu beberapa saat, setelah itu mereka diajak masuk ke ruang meeting
     “Jadi begini pak Tedy” ujar orang yang duduk di depan Rara dan bosnya.
     “Kami akan membuat iklan kopi segar ini, tapi sutradaranya dari kami, bapak yang membbuat ceritanya dan segala keperluannya, tapi sebentar lagi mungkin sutradaranya dating” orang itu melan jutkan pembicaraan.
     “Kopinya seperti apa pak” Tanya bos Rara.
     “Nah ini, kopinya, jadi saya maunya kopi ini benar-benar menyegarkan, baik siang maupun malam, kopi ini walaupun perut kita kenyang, biasanya kan ngntuk tuh, nah dengan minum kopi ini kita langsung fit lagi.”
     “Selamat siang, waduh maaf terlambat, macet jalanan” tiba-tiba seseorang masuk ruangan sambil membawa sedus kopi.
     “Nah ini sutradaranya” kata produsen kopi sambil menunjuk kepada orang yang tidak jelas siapa dia karena terhalang oleh dus yang ia bawa. Setelah ia meletakan dus, lalu orang itu berbalik dan memperkenalkan diri.
     “Maaf ya, nama saya Hilman” melihat Hilman, Rara dan pak Tedy bosnya Rara mendadak terdiam.                 
     “Loh kok pak Tedy, terus ini neng Rara, waduh maaf ini, saya mengantikan posisi Reno, Reno kini sudah alih profesi, dia tidak banyak bergelut dibidang ini lagi, dia hanya konsultan kami saja” Hilman menyalami keduanya.
     “Kalian sudah saling kenal ya” tanya produser Kopi itu.
     “Oh ya sudah lah pak, ini kan yang punya PH di tebet itu.” Jawab Hilman sambil tertawa lebar.
     “Oh kalau begitu ya sudah lah, Hil kamu kerjakan sama pak Tedy ini, aku tahunya beres saja dan harus ok ya”
Setelah mereka membicarakan isi iklan, mereka akhirnya bubar dan kembali kekantornya masing-masing.
Rara sebenarnya sedikit tertegun mende ngar bahwa Reno tidak lagi menggeluti bidang Shooting, terus dia kerja apa, makanya begitu ada kesempatan Rara langsung menyerbu dan bertanya kepada Hilman.
     “Terus Reno kemana sekarang Hil” tanya Rara sedikit mendesak.
     “Anu, dia sekarang pergi ke Sumatera, mengurusi kebon kopi punya bos ini, dan dia tinggal di sana” ujar Hilman sambil membereskan tasnya.
     “Katanya” lanjut Hilman.
     “Apa katanya” desak Rara ingin tahu.
     “Ya katanya dia lebih baik hidup di daerah, lebih tenang, terus dia sudah beli rumah dan kolam, jadi ya dia lumayan mapan lah” Hilman menjelaskan kepada Rara yang tetap berdiri disamping mobil Hilman.
     “Tin…tin…, Ra ayo cepat naik, atau Hilman suruh ikut dulu saja ke kantor kita, baru kamu bicara panjang lebar”
Pak Tedi mengajak Rara untuk segera naik ke mobil dan berangkat. Sejak itu, Rara dan Hilman terlibat lagi kerjasama, tapi kali ini, Rara sebagai bosnya Hilman, karena Hilman dibayar oleh Tedy bosnya Rara.
     Hari-hari mereka tetap sama seperti biasanya, tidak menunjukan ada tanda-tanda Rara dan Hilman pernah bersahabat begitu dekat, begitupun timnya Hilman. Mereka kerja sama begitu solid hingga iklan itu terbentuk dan sampai ditayang kan di televisi. Rara begitu bangga, karena sang produser kopi begitu puas dengan iklan yang dibuat tim itu. Namun diam-diam, Rara menyimpan keraguan direlung hati yang paling dalam.
     Dimanakah Reno yang begitu baik, bijaksana, sopan-santun dalam bertutur kata, serta romantis, tapi dia tak lagi berada bersama timnya. Reno, kemanakah kamu kini, maafkan aku ya, mungkin karena aku kamu pergi dari kota ini.
Mengapa kamu begitu cepat berlalu, Sanggupkah kamu melupakan hingar-bingar kehidupan ini. Kenapa kamu begitu rela melepas semuanya. Namun Rara berusaha untuk tetap tegar walau tampak kekalutan dalam jiwanya.
     Dilubuk hatinya yang sayu, ada rasa bimbang yang sulit untuk diungkapkan. Sementara ini belum ia sadari, sirnanya hati Reno dalam hatinya, pasti akan mem buat ia terluka parah. Rara sungguh-sungguh mencintai Reno, Rara pasti akan Rindu berat kepada kasih Rano, Rara pasti akan Rindu pelukan Reno, kehangatan Reno dan segalanya tentang Reno……... Mungkinkah Rara keliru telah membunuh cinta didalam dirinya dan Rara berusaha untuk membunuh cinta dalam hati Reno.
     Tuhan…maafkan lah aku, aku telah membuat kerisauan dalam jiwa dirinya. Mungkin dirku terlalu lugu, sehingga aku telah melakukan kesalahan dalam meng ambil keputusan cinta. Aku tahu dia telah berdua, aku pun demikian, ini memang yang membuatku sulit. Namun aku tak mungkin terus-menerus larut dalam cinta yang marut. Tapi aku bingung, aku rasakan tak mungkin melepas kasih cinta antara aku dengannya. Rasa yang ada dalam dada, rindu yang ada dalam kalbu, dan deraian air mataku terasa hanyalah untuknya. Aku bimbang, aku ragu, salah kah daku……, Tuhan… tolong berikan aku petunjuk. Namun demikian kamu pun salah Renoku sayang, kamu terlalu yakin menilai cinta kita. Kamu kira cinta akan abadi selamanya, aku tahu kamu telah berdua demikian pula aku, aku sudah ada Jody juga Jeni. Makanya ingin ku akhiri kisah cinta ini. Walau kamu pasti akan tetap kembali dalam benakku. Dan aku telah lama berjanji bawa cintamu kan ku bawa mati.
     Begitupun dengan Reno, sebenarnya ada rasa ingin berontak dan berteriak “Rara kembalilah kepelukanku” namun hal itu tak mungkin ia lakukan, karena ia tak ingin Rara tercinta terluka hatinya. Apa lagi membuat Rara menderita. Dirinya siap menderita asalkan Rara bahagia, begitu tekad dalam hatinya. Namun walaupun Rara telah berusaha membunuh api asmara yang ada dalam hati Reno, tapi tak mungkin akan mati semua, titik-titik bara api asmara tetap menyala, walaupun tidak mungkin untuk dikipasi supaya membesar dan bisa menyala seperti dulu.



     “Ra…biarlah hati ini menyimpan kasih mu, berbahagialah kamu bersama orang yang mencintaimu” Reno bergumam dalam hati, saat Reno datang ke Jakarta dan melintas di daerah Tebet.
     “Ren…maafkan aku ya, sebenarnya aku masih mencintaimu, namun aku tetap bingung, mungkin aku salah telah membu nuh cinta kita, aku rindu pada kasihmu, aku rindu belaianmu, namun tak mungkin untuk itu semua, atau aku harus nekat?” Rara pun bergumam dalam hati saat menonton Video klip-Video klip karya Reno. Semoga cinta mereka tetap abadi walu mereka tak lagi bersama, karena benar kata pepatah, cinta tak harus memiliki.***

TENTANG KawaliTV

Yayasan Bentang Kawali Cemerlang
«
Selanjutnya
Posting Lebih Baru
»
Sebelumnya
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Tinggalkan Balasan

Banner iklan disini